Karya pelukis besar Leonardo da Vinci itu demikian terkenal..Sebuah lagu juga memuja kecantikannya yang abadi.
Tapi Monalisa pun punya tempat yang paling istimewa di sebuah keluarga kecil yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan putrid tunggal mereka yang juga bernama Monalisa..
Resah sekali seorang ibu menanti kelahiran anak pertama. Seluruh badan terasa pegal, cepat capek, tidurpun terasa gelisah. Dan ketika tiba saatnya, Ya, Tuhan- betapa sakitnya! Ibu itu merasa benar-benar kapok dan tak ingin melahirkan lagi. Cukup sekali ini saja.
Tepatnya terjadi pada 6 Desember 1991. dan bayi perempuan yang beratnya 3.140 kg dengan panjang 50 cm itu diberi nama manis – Monalisa. Bukan merupakan paduan dari nama ibu Nina dan Bapak Haryono bukan karena mereka kurang mencintainya. Justru sebaliknya, seluruh kasih sayang mereka, seluruh harapan mereka, mereka tumpahkan padanya seorang.
Mona – demikian panggilannya sehari-hari, tumbuh cepat. Menjadi anak yang cerdas, ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Kemanjaan sebagai anak tentu saja ada, tetapi tetap dalam batas wajar. Bahkan dalam usia yang masih dini Mona sudah rajin Shalat 5 waktu dan lancar mengaji, selain itu nilai di sekolahnya selalu dapat pujian.
Setelah Jatuh Dari Ayunan…
Tak terasa, usia Mona telah mencapai 7 tahun. Konsentrasi kerja ibunya di sebuah hotel Internasional di Jakarta agak terganggu karena Mona sering mengalami batuk, pilek disertai suhu badan meninggi. Esbentar saja, lalu sembuh lagi. Keadaan ini berlangsung berulangkali selama 5 bulan.
Kadang ia mengeluh perutnya sakit – kemudian ibunya menggosok dengan Balsam, mungkin saja ia hanya masuk angin.
Kemudian tibalah hari naas itu : Mona mengalami kecelakaan , terjatuh dari ayunan di halaman sekolah. Berdua bersama kawannya yang ikut bermain ayunan tersebut Mona tertelungkup, kawannya terlentang. Karena kesakitan pada bagian kepala, anak itu menangis tetapi Mona tidak, hanya sikunya cedera sedikit. Tak ada keluhan lagi. Dua hari kemudian, selesai mengerjakan PR, Mona mengeluh perutnya kurang enak. Ketika ibunya menyuruh Mona untuk tidur, dan mengenakan pakaian tidurnya, ibunya melihat sesuatu yang aneh – ia merasakan adanya benjolan keras diperut Mona. Kemudian ibunya menceritakan hal ini ke ayahnya, dan keesokan harinya mereka membawa Mona ke RSCM Bagian Anak. Awalnya mereka hanya berfikir bahwa Mona hanya akan mendapat resep obat saja, tahunya Mona harus di rawat di RSCM itu juga. Diduga ada Tumor di perut Mona, dan harus secepatnya di bedah untuk mengetahui ganas tidaknya tumor itu.
Mereka berdua selaku orang tuanya tentu saja terkejut sekali. Mimpi pun tidak bahwa anak mereka yang masih semuda itu “disinggahi” penyakit yang menakutkan. Dua hari kemudian, Mona mengalami pembedahannya yang pertama. Hasilnya membuat sendi tulangkedua orang tua Mona menjadi lemas seketika : Monalisa menderita tumor ganas pada indung telur sebelah kiri. Gumpalan tumor yang di keluarkan saat itu sebesar jeruk Sunkist!!
Mama Ada Yang Menjemput Ku..
Bulan berganti bulan, menjadi tahun. Hamper 3 tahun sudahsejak mereka mulai mengetahui penyakit Mona. Tenaga, pikiran, dan biaya banyak sudah di habiskan. Tapi mereka tidak pernah mengeluh. Untuk mempertahankan nyawa putrid mereka satu-satunya, apapun akan mereka lakukan.
Mei 2001…. Keadaan Mona sudah demikian gawatnya. Dia hanya mampu duduk atau berjalan sebentar. Lebih banyak terbaring di tempat tidur. Wajahnya mengalami perubahan – tampak peot seperti wajah seorang lanjut usia. Sinar matanya juga lain – tajam, tidak lagi lembut dan ramah seperti biasa.
Setelah menjelaskan panjang lebar kepada kedua orang tua Mona, dokter tidak memberikan obat lagi. Merasa tak pernah di ajak berobat lagi, Mona bertanya, “Mama.. mengapa Mona tidak di obati lagi?”
Pada suatu malam ibu Nani jatuh tertidur karena kelelahan,, tiba-tiba Mona berteriak “Mama.. mama.. mengapa begitu banyak orang di kamar sebelah itu? Kurang ajar sekali mereka semua..malam-malam seperti ini bikin rebut, sampai Mona tidak bisa tidur usir saja mereka semua Ma..!!!” maka begitu Mona tertidur ibu Nani mengambil air wudhu, sembahyang Tahajjud “ Ya Tuhan,,seandainya kau inginkan anakku sembuh, sembuhkanlah ia segera. Tapi kalau Kau inginkan sebaliknya, jangan biarkan anakku menderita terlalu lama..”
Nonton Terakhir..
Hari itu Mona meminta untuk menonton film kegemarannya, tapi ibunya melarang Mona agar Mona cukup istirahat untuk penyedotan penyakitnya keesokan harinya. Ibu Nani pun tertidur pulas setelah shalat tahajjud. Tiba-tiba entah dorongan apa yang membuat ibu Mona menjadi siaga. Ia mempertajam pendengarannya – napas Mona tersengal-sengal. Terdengar begitu berat. Ia segera duduk dan memandangi anaknya. Cepat ia memanggil ayah Mona yang saat itu baru saja pulang dan tengah membuat kopi di dapur.
Segera ayah Mona masuk kamar dengan tenang ia membisikkan Surat Yasiin ke Telinga Mona. Detik demi detik berlalu dengan penuh ketegangan.. antara percaya dan tidak..
Mereka berdua bersama-sama menyaksikan kepergian anak tunggal mereka. Hampir bersamaan dengan hembusan napasnya yang terakhir, di kedua sudut matanya bergulir butir-butir air mata.
“anak kita telah tiada Ma..” bisik ayah Mona. Bersama mereka melafaskan “ Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun,,” setelah terpaku beberapa saat. Begitu muda Monalisa, belum lagi genap 10 tahun, namun begitu banyak sudah penderitaan yang harus di tanggungnya!!
Tinggallah mereka berdua saja. Monalisa yang layu sebelum berkembang, telah tiada, meninggalkan gurat kepedihan yang tak terhingga. Tetapi kalau mereka akan terlalu larut dalam duka, ingatlah mereka pada sebuah sajak yang di buat Mona 11 hari menjelang kepergiannya yang kini
bingkai indah di kamar kami..:
Pesan Buat Papa dan Mama
Papa.. Mama..
Tidak usah berdoa terlalu banyak,,
Ma,,Pa,,
Mona merasa..
Umur Mona tidak akan lama lagi
Maut sudah menjemput Mona,,
Kalau napas Mona
Tinggal satu-satu
Relakan Mona
Pergi dengan tenang..
Ku selalu sayang Mama dan Papa..
Makassar, 16 Juli 2001
The..End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar